Pria Ini Dulu Menjabat General Manager Bergaji Rp 100 Juta, Sekarang Hidup Tenang Jadi Penjual Es Cincau

Subtitle goes here

By:

Juni 08, 2020

Shares

0.0 of 0 Users
Loading...

Hidup seorang manusia kadang di atas kadang juga d bawah. Terkadang kita hidup mewah, bisa dalam waktu singkat jatuh miskin. itulah misteri cerita kehidupan manusia. Seperti yang dialami oleh penjual cincau bernama Hasanuddin (65).

Dulunya pria ini adalah seorang General Manager (GM) dengan gaji Rp 100 juta di perusahaan hiburan. Siapa yang sangka kini ia menjual es cincau dan es nanas di jalanan.

Hasanuddin pun menceritakan tentang kehidupannya melalu channel Youtube Gavy Story. Dari bergelimang harta, hingga harus menyorong gerobak menjajakan es cincau dan nanas yang dibuatnya sendiri.

Loading...

“Dulu punya rumah tingkat di Jakarta, punya mobil, komplit lah, ya itu dulu,” ucap pria yang mengaku seorang mualaf ini. Pria ramah ini juga mengaku memilih masuk Islam sejak 22 tahun yang lalu. Meski kini hidupnya pas-pasan, ia mengaku hatinya lebih tenang.

Hasanuddin mengungkapkan, jika dirinya dulu sempat lupa diri saat bergelimang harta, bahkan dia selalu memanjakan istrinya dengan berbelanja, makan enak di restoran mahal, dan juga hal-hal mewah lainnya.

Namun semua itu hanya sementara, lama kelamaan keuangan Hasanuddin menipis, bahkan dirinya berhutang hingga Rp 3 miliar. Selain itu, jatuh bangkrutnya ia, membuat terjadi pertengkaran dengan istri yang kemudian berujung perceraian.

Hasanudin kemudian mencoba untuk membangun rumah tangganya kembali dengan menikahi seorang wanita. Sayangnya, pernikahan keduanya juga diwarnai konflik dan kembali kandas.

Kekayaan yang dimiliki Hasanudin habis dan bahkan kehilangan pekerjaan. Namun, ia tak ingin menyerah. Hasanudin pun mencoba untuk mencari istri kembali.

Usahanya membuahkan hasil. Tetapi, wanita tersebut meminta satu syarat bila ingin meminangnya menjadi seorang istri. Hasanudin diminta untuk jadi mualaf kalau ingin menikahi wanita tersebut.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, ia pun bersedia Hasanudin kemudian merantau ke Sukabumi, Jawa Barat, dan memulai hidup baru dengan sang istri. Di sana ia kembali memulai hidupnya yang baru dan mencoba melupakan masa lalunya.

Kehidupan jadi mualaf membuatnya menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan tidak lagi menyesali apa yang terjadi di masa lalunya. Kini, penghasilannya sebagai penjual es cincau memang jauh berbeda dibandingkan saat masih menjadi General Manager.

Segelas es cincau dan es nanas yang ia jual harganya hanya Rp 5.000. Untuk mendapatkan uang Rp100 ribu saja, Hasanuddin harus keliling seharian. Tak jarang, ia kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhannya.

Setiap hari ia sibuk keliling kawasan Cikole sampai ke Degung Kota Sukabumi. Ia juga sering mangkal di dekat kampus Universitas Muhammadiyah Sukabumi.

Video berdurasi 16 menit ini langsung mendapat banyak perhatian warganet. Sejak diunggah pada Januari 2020, video itu sudah dilihat lebih dari 2,4 juta kali.

“Saya sudah tidak memikirkan itu (masa lalu) saya. Dulu saya dapat gaji Rp100 juta, sekarang nilainya rasanya lebih dari itu,” ucapnya dalam video yang terdiri dari tiga bagian tersebut.

0 Comment

Leave a Comment