Perjalanan Dokter Tirta Hingga Menjadi Mualaf

Subtitle goes here

By:

Mei 26, 2020

Shares

0.0 of 0 Users
Loading...

Semenjak merebaknya pandemi corona alias covid 19, nama dokter Tirta selalu menjadi perbincangan publik. Hal ini karena dokter Tirta selalu memberi semangat kepada tenaga medis dan pasien yang berjuang dan juga sering mengeluarkan kritik ke pemerintah terkait penanganan virus ini.

Namun, siapa sangka jika dokter jebolan Universitas Gajah Mada ini, ternyata seorang mualaf. Dokter Tirta sudah menjadi memeluk Islam sejak tahun 2011 lalu.

Dokter Tirta bercerita pengalamannya saat menjadi mualaf. Kala itu, ayahnya yang memang seorang muslim sedang menunaikan ibadah umrah.

Loading...

“Saat bersamaan aku mimpi yang aneh. Jadi waktu itu aku ketiduran jam 4 sore, aku lihat diri aku terbaring dan aku seperti terbang tinggi sekali,” kata Dokter Tirta melalui akun YouTube Masjid Agung Al-Azhar.

Saat terbang, dia mengaku dijaga dua orang berbaju putih dan bercahaya. Penjaga tersebut kemudian mengarahkan dirinya untuk menuju sebuah rumah berwarna hijau dan di sana terdapat keranda mayat berwarna hijau serta 9 orang.

“Di situ aku disuruh duduk dan tiba-tiba orang yang ada di dalam keranda itu bangkit, wajahnya bersinar banget. Dia tidak berkata apa-apa namun hanya menitipkan surat ke kantong meja dan menghilang,” tuturnya.

“Salah satu kiai yang ada di rumah tersebut bilang ke aku, suatu saat kamu tahu tugas mu akan besar. Kemudian saya terbangun dan pas (waktu) maghrib,” kata dia.

Sejak peristiwa itu, dia selalu mendengar adzan setiap pukul 09.00 pagi dan 12.00 siang. Pengalaman spiritual itu pun diceritakan Dokter Tirta kepada ayahnya.

“Bapak cerita saat umrah berdoa untuk mengarahkan aku untuk mendapatkan yang terbaik. Dan sejak saat itu, saya memutuskan mau masuk Islam,” ujarnya.

Dokter Tirta juga mengungkapkan, Islam bukanlah agama baru dalam kehidupannya. Pasalnya, selama hidup dia selalu mempelajari dua agama yakni Islam dan Kristen.

“Aku juga pergi ke gereja dan masjid, di situ berpikir, kalau ke gereja masuk surga dan ke masjid masuk surga, kenapa tidak menjalani kedua-duanya,” tuturnya.

“Aku dari SD ke Tempat Pengajian Alquran (TPA) di Masjid Al-Fajri, di situ aku belajar mengaji dan setiap minggu aku juga ke sekolah minggu,” tandasnya.

0 Comment

Leave a Comment