Perawan Santri Ini ‘Koyak’ Ditangan Guru Ngaji di Pesantren, Empat Tahun Jadi Budak Seks

Subtitle goes here

By:

Mei 26, 2020

Shares

0.0 of 0 Users
Loading...

Malangnya nasib gadis santri di Bandung. Pasalnya, dirinya yang saat ini berusia 18 tahun, ternyata menjadi budak seks guru ngajinya di pesantren selama empat tahun. Kelakuan bejat sang guru ngaji terbongkar, pasca korban melaporkannya ke orang tua.

Pelaku berinisial EP (36), dan dari hasil penyelidikan polisi, guru ngaji ini sudah empat tahun mencabuli korban, yakni berawal tahun 2016, dimana korban berkenalan dengan seorang pria di Facebook dengan akun M. Rizki Hamdan.

Dugaan kuat, akun tersebut merupakan buatan pelaku EP untuk menjebak korban. Sering chatingan, akhirnya korban memberikan nomor WhatsApp nya ke pria yang dikenalnya di Facebook tersebut. Pria ini juga merayu korban untuk mengirim foto tanpa memakai hijab. Karena masih polos, korban mengirim foto tersebut.

Loading...

Setelah itu, pria tersebut kembali meminta korban untuk berfoto tanpa busana. Korban tegas menolak, namun ternyata pria tersebut balik mengancam akan melaporkan foto tanpa hijabnya ke pengurus pesantren.

Yang lebih anehnya, pria tersebut juga meminta korban untuk berhubungan badan dengan guru ngaji di pesantren yang tak lain adalah pelaku. “Karena korban takut fotonya tidak menggunakan hijab tersebar dan mendapat hukuman dari pesantren, korban mengaminin permintaan tersebut,” ungkap Kapolresta Bandung Kombes Hendra Kurniawan, saat ungkap kasus, di Mapolres, Selasa (26/5/2020).

Awalnya gadis santri takut, namun ia lebih was-was jika fotonya tersebar. Korban pun berbicara apa yang mengancamnya, terhadap pelaku EP. Setelah tahu ancaman itu, EP pun langsung mengiyakan permintaan untuk berhubungan badan dengan korban.

“Padahal, dari korban mengatakan kalau EP ini, merupakan guru yang tak disukainya,” ucapnya.

Tak kuat menjadi budak seks pelaku, korban pun menceritakan apa yang menimpanya pada dua orangtua korban. Tak terima anaknya menjadi korban nafsu gurunya, orangtua melaporkan tindak asusila itu kepada polisi. Dan polisi pun berhasil menangkap pelaku EP.

“Dari pengakuan pelaku, diketahui tindak asusila nya dilakukan di lingkungan pesantren dan rumah korban,” kata dia.

Atas perbuatannya, polisi kenakan pelaku dengan pasal 81 ayat 3 dan atau 82 UU RI nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan Perpu nomor 1 tahun 2016, tentang perubahan kedua UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, JO pasal 64 ayat 1 KUHAPidana dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara.

Sementara itu, EP mengaku khilaf atas perbuatannya itu. EP yang telah memiliki dua anak itu, mengatakan tindakan asusilanya dilakukan di lingkungan sekolah juga di rumah kontrakannya saat sepi.

0 Comment

Leave a Comment