Pengertian Narasi, Ciri – Ciri, Jenis, Unsur, Struktur dan Contoh Narasi

Subtitle goes here

By:

April 14, 2020

Shares

0.0 of 0 Users
Pengertian Narasi
Loading...

Narasi merupakan suatu tatanan kalimat dalam paragraf dengan baya bahasa menceritakan secara tersusun dari awal hingga akhir. Teks narasi sering kita temukan dalam sebuah karya sastra seperti cerpen maupun novel.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, narasi adalah pengisahan suatu cerita atau kejadian. Salah satu tujuan dari narasi adalah untuk mempermudah pembaca dalam memahami isi cerita atau kisah yang dituliskan oleh penulis.

Ciri – Ciri Narasi

Sebagaimana dijelaskan di atas narasi merupakan gaya bahasa, adapun ciri-ciri dari teks narasi adalah sebagai berikut:

Loading...
  1. Umumnya teks narasi adalah sebuah cerita atau kisah
  2. Mempunyai nilai keindahan bagi siapapun yang membacanya seolah sedang mendengarkan sebuah cerita
  3. Kalimatnya tersusun. Apabila menceritakan suatu kejadian maka ditulis dengan tatanan yang rapi dari awal terjadinya suatu perkara hingga akhir.
  4. Memperlihatkan unsur dari suatu kejadian
  5. Umumnya narasi adalah teks yang mengandung jawaban dari pertanyaan “apa yang terjadi atau kepana”
  6. Dalam teks narasi terdapat konflik yang menjadi pembahasan

Jenis – Jenis Narasi

Narasi dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain sebagai berikut.

1. Narasi Informatif

Merupakan teks atau paragraf yang menyampaikan suatu informasi secara tepat dan menambah wawasan pembaca terhadap kisah tokoh yang diceritakan.

2. Narasi Ekspositorik

Narasi ekspositorik ditulis berdasarkan data yang benar. Umumnya menceritakan satu tokoh yang ditonjolkan wataknya dan dikisahkan secara tersusun dari kecil sampai saat berakhirnya suatu cerita atau akhir kehidupan dari tokoh yang diceritakan.

3. Narasi Sugestif

Tulisan yang mengisahkan seseorang dengan tujuan menyampaikan pesan kepada pembaca seolah-oleh pembaca melihat kejadian yang diceritakan.

4. Narasi Artistik

Narasi artistik adalah tulisan yang dibuat untuk menyampaikan suatu pesan kepada para pembaca namun tidak secara gamblang (pesan tersembunyi). Narasi artistik disampaikan dengan penggunaan bahasa yang logis serta tidak memasukan unsur sugestif.

Unsur – Unsur Narasi

Narasi terdiri dari beberapa unsur, berikut penjelasannya.

1. Tokoh

Dalam sebuah narasi harus ada tokoh yang diceritakan

2. Latar

Latar adalah salah satu bagian terpenting dalam narasi karena akan memberikan gambaran terkait suasana, tempat dan waktu

3. Alur (Plot)

Alur  merupakan rangkaian cerita yang tersusun dalam sebuah cerita. Alur maju adalah suatu kisah dengan rangkaian penulisan yang disusun berdasarkan kronologis cerita sedangkan alur mundur adalah kisah yang menceritakan suatu kejadian dimasa lalu.

4. Pengembangan

Susunan kejadian secara detail dari mulai pengenalan tokoh dalam cerita, konflik yang terjadi atau dihadapi oleh tokoh hingga penyelesaian dari konflik tersebut.

Struktur Narasi

Struktur narasi ada beberapa macam, antara lain sebagai berikut.

1. Pendahuluan atau pengenalan

Bagian awal sebuah cerita yang memperkenalkan tokoh, watak, latar tempat, latar suasana latar waktu dan masih banyak lagi. Pendahuluan ditulis dengan tujuan memberikan gambaran agar pembaca lebih mudah menikmati alur cerita selanjutnya.

2. Awal pertikaian

Awal pertikaian merupakan awal mula terjadinya konflik dalam cerita yang dituliskan.

3. Klimak

Biasanya bagian klimak inilah yang membuat para pembaca merasakan sensasi seperti gemas, suka, jengkel karena melihat inti konflik dari cerita yang mereka baca.

4. Antiklimaks

Merupakan akhir dari konfilk serta penyelesaiannya yang menandakan bahwa cerita telah selesai.

Itulah pengertian serta penjelasan tentang narasi. Agar lebih mudah dipahami perhatikan beberapa contoh narasi di bawah ini:

Contoh I

Aku Sean, gadis biasa yang terlahir dari keluarga sederhana. Kesederhanaan yang selalu aku nikmati, kesederhanaan yang selalu bisa membuatku tertawa, kesederhanaan kasih seorang nenek yang bisa menggantikan posisi ibu setelah ia meninggal ketika aku berusia 8 tahun.

Saat usiaku 10 tahun kakak perempuanku dinikahi seorang yang dia cintai, seorang yang bisa membawa dia pergi dari tangis tak kunjung padam sepeninggalan ibu. Mereka bahagia, suaminya bisa mengembalikan senyum manis di wajah kakak yang hampir lama tak terlihat.

Kini aku berdua dengan nenek, tanpa kakak yang selalu menemaniku. Hanya berdua tanpa ibu yang telah disyurga, tanpa kakak yang telah hidup bahagia. Aku tak lagi bersedih akan hal itu, mereka telah menemukan tempat yang bisa membuat mereka bahagia, karena aku pun kini bahagia dengan nenek yang sangat aku cintai.

Hingga pada usiaku 13 tahun nenek berkata “Ndo, jika nenek pergi nanti, kamu harus bisa jaga diri, sekolah yang benar, jadi wanita sholehah yah Ndo, rajin ngaji, do’akan nenek dan ibumu juga kakakmu. Kamu harus janji Ndo, apapun yang terjadi, sebesar apapun cobaan hidupmu jangan pernah menyerah, karena Gusti Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar”

Nenek meninggal.

Sekarang aku sendiri di rumah ini. Rumah berdindingkan kayu, beratapkan bilik. Dulu aku cinta rumah ini, rumah sederhana dengan kehidupan sederhana namun bisa aku nikmati dan syukuri. Tapi sekarang, haruskah aku masih mencintai rumah ini? Haruskah aku mencintai hal yang membuatku terluka? Haruskah aku tetap ada di sini dengan seribu lara yang membuat aku tak ingin kembali menatap gelapnya dunia. Aku rapuh, aku hancur, aku sendiri, hanya sendiri. Kau telah mengambil mereka Tuhan.

Contoh II

Aku Sean, kini usiaku 17 tahun dan duduk di bangku kelas 2 SMA, jangan tanya dari mana biaya sekolahku! Tentu saja Ayahku masih ingat jika dia memiliki seorang anak. Ayah yang membiayai sekolahku, walau kini ia entah sedang ada di pulau mana, tapi aku tahu dia baik-baik saja. Lagi pula lebaran tahun ini ayah akan pulang.

Empat tahun hidup dengan kakakku, walau kadang aku seolah ingin pergi saja dari rumah ini. Rumah yang mendadak sangat menyeramkan. Rumah yang semula aku anggap sebagai pelindungku, kini berubah, seakan disini juga aku akan celaka.

Aku gadis baik, pintar, cantik dan rajin. Sekali lagi bukan aku yang katakan itu, tapi orang-orang yang menilaiku demikian. Dan aku memang cantik!

17 tahun, usia remaja yang sangat tidak ingin di habiskan dalam rumah yang penuh kebohongan ini. Rumah yang dilapisi pendustaan.

Bagaimana mungkin lelaki itu bisa melakukan ini padaku, dia adalah suami kakakku yang telah aku anggap sebagai kakakku sendiri, tidak mungkin ia ingin menjamahku. Tidak mungkin dia membelai pipiku dipenuhi nafsu. Tidak mungkin dia katakan dia mencintaiku adik iparnya sendiri.

Contoh III

Pada hari senin aku bangun pagi sekali lantas bersiap berangkat ke sekolah karena hari ini ada acara pentas seni dan aku menjadi panitianya.

Pukul 06.00 pagi aku telah menaiki bus yang menuju sekolahku, ternyata di dalam bus ada Rania dan aku duduk di sebelah Rania.

Kami tiba di sekolah pukul 06.30 pagi dan segera memasuki ruang panitia untuk mempersiapkan acara pentas seni yang akan di mulai pada pukul 07.30.

Acara berjalan dengan lancar semua peserta antusias menikmati segala pertunjukan hingga pukul 14.00 siang.

Hari ini sangat menyenangkan meski terasa lelah, pukul 15.00 sore aku telah tiba di rumah dan menceritakan keseruanku di sekolah pada Ibu.

0 Comment

Leave a Comment